Evaluasi Tingkat Kepuasan Wisatawan Sebagai Pondasi Pengukuran Destination Competitiveness : Studi Empiris Dari Kawasan Wisata Lovina

Artikel ini di tulis oleh

Putu Indah Rahmawati, S.St.Par.M.Bis &  A.A Sri Barustyawati, S.Pd

Telah di publikasikan pada Jurnal Pariwisata .Vol. 14, No.1, Maret 2009. Halaman : 54 – 65. Diterbitkan oleh Pusat Penelitian Diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti. Akreditasi Dikti No: 55a/Dikti/Kep/2006. ISSN 1411-1527.

IMG_0002

ABSTRAK

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan wisatawan selama berkunjung di kawasan wisata Lovina. Data diambil dengan menyebarkan kuesioner dengan teknik sampling expose facto. Subjek penelitiannya adalah wisatawan dan objek penelitiannya adalah fasilitas, askesibilitas dan pelayanan wisata. Teknik yang digunakan adalah teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa secara umum wisatawan puas dengan kunjungannya ke Lovina, namun tidak puas dengan toilet umum, papan informasi dan pusat pelayanan informasi yang ada di Lovina. Secara kualitatif, wisatawan memberikan saran agar pantai Lovina bersih dari pedagang acung, sampah dan keamanan di jalan raya perlu ditingkatkan. Selain itu, wisatawan memerlukan fasilitas penitipan anak dan taman bermain untuk anak-anak. Akhirnya, penelitian ini menyarankan bahwa semua stakeholder berkolaborasi untuk menyikapi opini dan saran dari wisatawan.

 

ABSTRACT

The objective of the research is to find out the tourist’s satisfaction level during their visit in Lovina. Data were collected by questionaire using expose facto technique. Subject of the research is tourists and object of the research is facilities, accessibilities, and services in Lovina. The research results show that generally tourist satisfied with their visit in Lovina, however tourist not satisfied with the  public toilet, tourist board and tourist information center. Moreover, tourist hope that the beach clean from ilegal fendor, rubish and road safety need to be improved. Furthermore, tourist need child care and playground for their kids. Finally, this research suggest that entire stakeholder collaborate to follow up tourist opinion and suggestions from tourists.

 


 

  1. PENDAHULUAN

Strategi pemasaran suatu daerah tujuan wisata yang efektif memerlukan pemahaman yang detail mengenai proses pembuatan keputusan dari wisatawan untuk berkunjung. Image sebelum berkunjung, pengalaman selama berkunjung dan evaluasi setelah berkunjung merupakan hal kompleks yang mempengaruhi proses pembuatan keputusan bagi wisatawan untuk berkunjung ke suatu kawasan wisata (Hanlan, dkk, 2006).

Keputusan wisatawan dalam memilih daerah tujuan wisata dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: ekonomi, politik, sosial, budaya dan tehnologi (Lewis et al. 1995). Faktor-faktor ini diciptakan oleh opini publik maupun pemberitaaan baik secara positif maupun negatif. Image positif diciptakan untuk mempromosikan suatu daerah tujuan wisata sedangkan image negatif tercipta karena pemberitaan-pemberitaan negatif baik karena perang sipil, bencana alam, dan bencana buatan manusia seperti bom (Kotler et al. 2006).

Selanjutnya, proses pembuatan pembuatan keputusan tidak selesai hanya sampai selama wisatawan berkunjung karena wisatawan dipastikan memiliki pengalaman berbeda-beda selama berkunjung. Sehingga kemudian tingkat kepuasan wisatawan akan berbeda sesuai dengan pengalamannya masing-masing. Membuat wisatawan puas atas pengalaman yang diperolehnya selama berkunjung merupakan hal esensial dalam upaya pemasaran suatu kawasan wisata. Oleh karena itu upaya mengukur tingkat kepuasan wisatawan adalah hal yang mutlak dilakukan sebagai upaya redesign strategi pemasaran serta sebagai pondasi untuk mengukur destination competitiveness.

Pulau Bali sudah terkenal di mancanegara dengan keindahan alamnya dan keunikan budayanya. Wisatawan dari berbagai dunia datang berkunjung untuk menyaksikan keajaiban keindahan dari “Island of thousand temples” atau pulau seribu pura. Kedatangan wisatawan memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Pengembangan pariwisata yang sejak tahun 1978 yang dipusatkan di kabupaten Badung memberi dampak terjadinya ketimpangan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali, bahkan juga mengakibatkan perbedaan jumlah PAD yang sangat besar. Sejak adanya otonomi daerah, kabupaten lain di Bali mulai berusaha keras untuk mendongkrak PADnya. Dan adanya tren global “back to nature” memberi harapan kepada Daerah Tingkat II Buleleng. Bagus Sudibya (2003) mengatakan bahwa trend ekowisata ini harus dimanfaatkan Kabupaten Buleleng untuk menggarap niche market yang selama ini belum digarap. Ada relung-relung pasar yang tergolong minat khusus yang sampai saat ini belum digarap dengan baik, padahal pangsa pasar tersebut mempunyai potensi besar  baik dari segi kualitas dan kuantitas.

Salah satu potensi wisata  yang dimiliki oleh Kabupaten Buleleng adalah kawasan wisata Lovina. Terkenal dengan atraksi wisata lumba-lumba dan suasana kehidupan yang jauh berbeda dengan daerah Bali selatan membuat kawasan wisata ini cukup terkenal di mancanegara. Akan tetapi, jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan wisata Lovina juga menurun seiring musibah berturut-turut yang menimpa Pulau Bali seperti : Bom Bali 1, Bom Bali 2, isu tsunami, dan beberapa musibah yang menimpa daerah-daerah lain diluar propinsi Bali.

Berbagai musibah alam dan buatan tersebut menjadikan alasan beberapa negara seperti Australia untuk mengeluarkan travel warning. (http://www.smartraveller.gov.au/zw-cgi/view/Advice/Indonesia, 2007). Sekali lagi, travel warning dapat mempengaruhi image dari pulau Bali termasuk kawasan wisata Lovina di mancanegara. Berkat kerja keras pemerintah dan semua stakeholder pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan di tahun 2007 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Meskipun telah terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan akan tetapi evaluasi terhadap tingkat kepuasan wisatawan setelah berkunjung ke kawasan wisata Lovina tetap perlu dilakukan. Terlebih lagi belum pernah ada instansi ataupun individu yang melaksanakan evaluasi terkait. Sehingga upaya untuk mengukur destination competitiveness dan mendesain strategi pemasaran kawasan wisata yang lebih efektif sangat mendesak untuk dilaksanakan.

Evaluasi terhadap competitiveness suatu kawasan wisata merupakan hal yang signifikan untuk dilakukan sebagai alat penting dalam strategi positioning dan pemasaran suatu kawasan wisata (Pearce,1997; Faulkner et al, 1999). Berbagai studi mengenai metode pengukuran destination competitiveness telah dilakukan oleh beberapa ahli pariwisata international (Chon & Mayer, 1995; Pearce, 1997; Hassan, 2000; Crouch & Ritchie, 2003). Meskipun demikian belum ada penelitian yang khusus menilai kawasan wisata Lovina yang menjadi andalan bagi Kabupaten Buleleng. Oleh karena itu, maka dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1)  tingkat kepuasan wisatawan  terhadap fasilitas, aksesibilitas dan pelayanan wisata selama berkunjung di kawasan Lovina, (2) tingkat kepuasan wisatawan  secara umum berdasarkan pengalamannya berkunjung di kawasan wisata Lovina (3) hubungan antara tingkat kepuasan wisatawan dengan keinginan untuk merekomendasikan Lovina kepada orang lain (4) opini dan harapan wisatawan terhadap perkembangan kepariwisataan di Lovina.

Produk wisata adalah serangkaian komponen yang dinikmati wisatawan sejak dia meninggalkan rumahnya sampai kembali lagi ke rumahnya yang berupa atraksi, fasilitas-fasilitas wisata dan aksesibilitas. Definisi  Destination Competitiveness menurut d’Hauteserre (2000, p.23), adalah kemampuan suatu daerah tujuan wisata untuk memelihara positioningnya di pasar dan kemampuan untuk meningkatkannya secara terus menerus. Sedangkan menurut  Goeldner dan Ritchie (2003, p. 417)  kemampuan suatu daerah tujuan wisata untuk bersaing dengan efektif dan menguntungkan. Hasan (2000, p.240) menyatakan bahwa Destination Competitiveness adalah kemampuan suatu daerah tujuan wisata untuk menciptakan nilai tambah dalam suatu produk  serta memelihara positioningnya di tengah-tengah para persaingan yang sangat ketat. Dari berbagai definisi para ahli tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Destination Competitiveness adalah kemampuan suatu daerah tujuan wisata untuk menjaga kualitasnya sehingga mampu bersaing dengan berbagai kompetitor dan memelihara positioningnya di pasar.

Disamping berbagai definisi diatas, beberapa model telah diciptakan untuk mengukur destination competitiveness. Pada tahun 1995, Chon dan mayer dalam Faulkner et al (1999) berhasil mengadopsi “Porter’s generic competitiveness model” ke dalam industri pariwisata. Model ini menyangkut lima dimensi pengukuran yaitu pendekatan, management, organisasi, informasi, dan effisiensi. Pearce (1997) kemudian memperkenalkan metode yang diberi nama CDA (Competitiveness Destination Analysis) yaitu suatu alat sistematik yang mengukur dan membandingkan berbagai atribut suatu daerah tujuan wisata dalam konteks perencanaan. Beliau meyakinkan bahwa metode ini lebih objektif dalam melakukan penilaian beberapa atribut pariwisata terutama mengenai kelebihan dan kekurangan suatu daerah tujuan wisata dan kemudian memberi kontribusi yang lebih efektif untuk memformulasi kebijakan perencanaan (planning policies).

Pada tahun 2000 kemudian Hasan memperkenalkan model lain yag menilai hubungan antara stakeholder pariwisata yang terkait dalam menciptakan nilai tambah suatu kawasan wisata untuk menjaga positioningnya di tengah-tengah persaingan pasar. Model ini mengkritik model pertama yang diadposi dari Porter model yang dinyatakan terlalu simpel dan tidak cukup untuk mengukur kemampuan suatu daerah tujuan wisata. Hasan kemudian mengacu bahwa pariwisata di pengaruhi oleh berbagai ragam industri pariwisata yang berperan dalam menjaga sustainability suatu daerah tujuan wisata. Oleh karena itu model ini menambahkan bahwa keberadaan kerjasama antara stakeholder pariwisata termasuk para pengusaha di industri pawisata adalah sanagt penting untuk kemampuan bersaing di masa mendatang.

Model terbaru kemudian di ciptakan oleh Crouch dan Ritchie (2003) yang mengangkat lima dimensi utama penilaian, antara lain: (1) qualifying and amplifying determinants (2) destination policy (3) planning and development (4) destination management (5) supporting factors and resources.  Tujuan dari model ini adalah untuk mencapai keberlanjutan suatu daerah tujuan wisata dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dalam suatu daerah baik dalam bentuk kesejahteraan ekonomi, pemeliharaan lingkungan dan peningkatan kualitas hidup. Skema model Crouch and Ritchie dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Dari berbagai model yang telah diciptakan, peneliti kemudian mengambil sebagian kecil aspek dari “Destination Competitiveness Model” yang dirancang oleh Crouch and Ritchie yaitu mengukur tingkat kepuasan wisatawan di kawasan wisata Lovina. Diharapkan pada nantinya hasil penelitian ini dapat dijadikan pondasi untuk penelitian selanjutnya untuk mengukur kemampuan kompetitif kawasan Lovina di masa mendatang.

  1. METODE

Rancangan penelitian ini adalah expose pacto dengan menggunakan teknik survai. Penelitian di rancang selama 8 bulan di kawasan wisata Lovina Kabupaten Buleleng Propinsi Bali. Subjek penelitian ini adalah wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Lovina. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling yaitu dengan menyasar wisatawan yang telah tinggal di Lovina dalam jangka waktu tertentu sehingga setiap wisatawan punya hak yang sama untuk menyampaikan opininya mengenai kawasan wisata Lovina. Objek penelitian ini adalah tingkat kepuasan wisatawan terhadap fasilitas wisata dan faktor pendukung lainnya di kawasan wisata Lovina. Variabel yang akan dicari antara lain: infrastruktur, aksesibilitas, fasilitas wisata, keramahtamahan dan keberadaan industri pariwisata di kawasan Lovina. Pengumpulan data dilakukan melalui survai lapangan dengan menggunakan kuesioner. Data kemudian dianalisis dengan analisis kuantitatif dan kualitatif.

  1. HASIL

3.1   Profil demografi respondent

Ada 127 responden yang berhasil di peroleh dari 150 kuesioner yang disebar di kawasan Lovina. Hal ini menunjukkan bahwa respond rate nya cukup  tinggi yaitu (85%). Dari hasil analisis deskriptif untuk profil responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden berasal dari Eropa, terutama Belanda  dengan persentase 41,7% hanya sebagian kecilsaja tamu berasal dari Asia dan Australia.  Sebagian besar wisatawan adalah karyawan dan pensiunan dengan komposisi sebaran umur wisatawan cukup merata.Detail persentase profil data responden dapat dilihat pada tabel1.

Tabel 1. Profil data responden

Nationality

Frequency

Percent

Age group

Frequency

Percent

Valid denmark 8 6.3 Valid 16-19 8 6.3
polish 3 2.4 20-29 24 18.9
dutch 53 41.7 30-39 30 23.6
australia 8 6.3 40-49 26 20.5
british 8 6.3 50-59 29 22.8
germany 13 10.2 60 or over 10 7.9
italian 4 3.1 Total 127 100
belgian 2 1.6
austria 1 0.8  current position

Frequency

Percent

french 8 6.3 Valid employee 70 55.1
swiss 5 3.9 self employee 21 16.5
swedish 1 0.8 retired 13 10.2
malaysian 6 4.7 housewife/man 12 9.4
singapore 3 2.4 student 8 6.3
japanese 2 1.6 unemployed 2 1.6
Total 125 98.4 Total 126 99.2
Missing System 2 1.6 Missing System 1 0.8
Total 127 100 Total 127 100

3.2   Tingkat kepuasan wisatawan terhadap fasilitas, aksesibilitas dan pelayanan wisata selama berkunjung di kawasan wisata Lovina.

Hasil survei menunjukkan bahwa wisatawan hanya merasa puas terhadap kualitas hotel dan keramahtamahan penduduk lokal di Lovina. Sedangkan,  terhadap fasilitas toilet umum, tourist information board dan tourist information center, wisatawan jelas menunjukkan ketidak puasan. Selanjutnya, wisatawan sebagian besar memberikan nilai netral untuk fasilitas-fasilitas seperti restaurant di dalam dan diluar hotel, money changer, communication services, shopping facilities, guide services, kualitas jalan, arus lalu lintas, jarak ke Lovina.

 

 

Tabel 02

Tingkat kepuasan wisatawan terhadap fasilitas, aksesibilitas dan pelayanan di Lovina

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
road quality 125 1.00 5.00 2.9600 1.05800
traffic flow 124 1.00 5.00 2.9597 .94910
distance to lovina 116 1.00 5.00 3.2069 .89944
hotel quality 124 1.00 5.00 4.0000 .91064
restaurant inside hotel 122 1.00 5.00 3.7213 1.04654
cafe/restaurant outside hotel 115 1.00 5.00 3.5478 .84025
money changer 103 1.00 5.00 3.0097 .93405
public toilet 109 1.00 5.00 2.4404 1.10077
tourist information board 109 1.00 5.00 2.6514 1.06611
tourist information center 108 1.00 5.00 2.7870 1.08560
communication facilities 118 1.00 5.00 3.2881 .90678
shopping facilities 121 1.00 5.00 3.2975 .91874
guide services 116 1.00 5.00 3.5948 1.15705
local government bureaucracy 105 1.00 5.00 2.9524 .96457
local friendliness to tourist 124 1.00 5.00 4.1935 .87120
cleanliness 126 1.00 5.00 3.2540 1.01143
Valid N (listwise) 77

 

3.3   Tingkat kepuasan wisatawan  secara umum berdasarkan pengalamannya berkunjung di kawasan wisata Lovina

Akan tetapi, penilaian wisatawan terhadap Kawasan wisata Lovina secara umum hasilnya agak berbeda.  Berdasarkan tabel dibawah dapat dilihat bahwa 68, 3% wisatawan merasa puas terhadap pengalamannya berkunjung secara umum, 20,6 % merasa netral dan hanya 0,8% yang menyatakan tidak puas.

Tabel 03

Tingkat kepuasan wisatawan secara umum

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid not satisfied 1 .8 .8 .8
neutral 25 19.7 19.8 20.6
satisfied 60 47.2 47.6 68.3
very satisfied 40 31.5 31.7 100.0
Total 126 99.2 100.0
Missing System 1 .8
Total 127 100.0

 

Data dari tabel 2 dan tabel 3 menunjukkan bahwa walaupun wisatawan sangat  tidak puas terhadap fasilitas toilet toilet umum, tourist information board dan tourist information center, wisatawan memiliki toleransi yang tinggi dengan menerima sebagai kekurangan yang wajar di negara-negara yang sedang berkembang.  Toleransi yang tinggi inilah yang menyebabkan wisatawan melupakan ketidakpuasannya dan mengingat semua keindahan pengalamannya selama berkunjung di kawasan wisata Lovina.

 

3.4   Hubungan antara tingkat kepuasan wisatawan dengan keinginan untuk merekomendasikan Lovina kepada orang lain

Walaupun tidak ada wisatawan yang menyatakan dirinya tidak puas dengan kunjungannya atau pengalamannya selama berkunjung di Lovina, hasil survey menunjukkan bahwa ada 9 orang dari 125 respondent yang menyatakan keberatan untuk merekomendasikan Lovina kepada orang lain. Hasil cross tabulasi mengarah pada informasi bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat kepuasan selama berkunjung dan keinginan untuk merekomendasikan Lovina kepada orang lain.

Hasil analisis dengan menggunakan korelasi nonparametrik kendalls dan spearman menegaskan hasil crosstabulasi diatas. Pada tabel 04 dapat dilihat bahwa:

  • terjadi korelasi negatif antara tingkat kepuasan  wisatawan dengan keinginan untuk merekomendasikan Lovina kepada orang lain. Maka semakin puas wisatawan semakin tidak ingin merekomendasikan Lovina kepada orang lain. Namun, angka -0.082 menunjukkan bahwa hubungan kedua variabel sangat lemah.
  • Dilihat dari signifikansi hasil korelasi, dapat diketahui bahwa korelasi antara tingkat kepuasan wisatawan dengan keinginan untuk merekomendasikan Lovina adalah tidak signifikan. Angka probabilitas 0.336 yang jauh diatas 0.05 berarti bahwa tingkat kepuasan wisatawan selama berkunjung ke Lovina tidak ada hubungan dengan keinginannya untuk merekomendasikan Lovina kepada orang lain.

 

 

Tabel 04 . Korelasi

level of satisfaction do you intend to recommend lovina to other
Kendall’s tau_b level of satisfaction Correlation Coefficient 1.000 -.082
Sig. (2-tailed) . .336
N 126 125
do you intend to recommend lovina to other Correlation Coefficient -.082 1.000
Sig. (2-tailed) .336 .
N 125 126
Spearman’s rho level of satisfaction Correlation Coefficient 1.000 -.086
Sig. (2-tailed) . .338
N 126 125
do you intend to recommend lovina to other Correlation Coefficient -.086 1.000
Sig. (2-tailed) .338 .
N 125 126

3.5   Opini dan harapan wisatawan terhadap perkembangan kepariwisataan di Lovina

Opini dan harapan wisatawan terhadap perkembangan kepariwisataan di Lovina dapat di peroleh dengan merangkum informasi dari respondent. Secara umum wisatawan memiliki opini bahwa Lovina adalah kawasan wisata yang indah, tenang, dengan penduduk lokal yang ramah dan menyambut baik kehadiran wisatawan asing. Akantetapi majoritas wisatawan menyatakan bahwa pantai Lovina terlihat kumuh, tidak terawat, sampah banyak berserakan dan terlalu banyak pedangan acong. Keberadaan pedagang acung sangat mengganggu wisatawan karena mereka memaksa-maksa wisatawan untuk membeli produk mereka. Selain itu, wisatawan juga kurang nyaman dengan lalulintas yang tidak teratur dan para pengemudi yang mengebut di jalan raya Lovina. Beberapa wisatawan memberikan masukan agar pengelola kawasan Lovina membersihkan pantai, memperbaiki trotoar agar aman untuk pejalan kaki, membuat taman bermain untuk anak-anak dan tempat penitipan anak. Rincian opini dan harapan mengenai kawasan wisata Lovina dapat dilihat pada lampiran

4.6  PEMBAHASAN

Keberadaan kawasan Lovina yang sudah terkenal di mancanegara membuat banyak investor datang untuk menanamkan modal dan berbisnis pariwisata di Lovina. Perkembangan kepariwisataan di Lovina menjamur dengan cepat sehingga pihak pemerintah tidak mampu lagi membendung tata ruang yang sekarang menjadi semakin tidak teratur. Tingkat abrasi yang tinggi menyebabkan Lovina kehilangan lahan pasir yang dulu sangat indah dan menjadi tempat wisatawan beraktifitas. Ditambah lagi beberapa fasilitas wisata yang tampak tidak terawat dengan baik. Beberapa isu dan hasil observasi sekilas tersebut kemudian di survei dengan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan kejelasan mengenai isu yang berkembang dan untuk mendapat jawaban mengenai harapan wisatawan terhadap perkembangan kepariwisataan Lovina dimasa mendatang.

Isu penting yang terungkap dari hasil survei yaitu ketidakpuasan wisatawan terhadap kebersihan pantai Lovina dan kurang lengkapnya fasilitas-fasilitas wisata di kawasan wisata Lovina. Isu lain yang tidak kalah penting adalah keberadaan pedagang acung di sekitar pantai Lovina. Pedagang acung tersebut telah membuat wisatawan merasa tidak dapat menikmati liburannya di Lovina karena dipaksa dan dikejar-kejar untuk membeli dagangan mereka. Selanjutnya mengenai kondisi toilet umum yang kurang baik dan beberapa fasilitas pemerintah seperti TIC (tourist information center) yang kurang informatif dalam memberikan pelayanan. Keberadaan fasilitas-fasilitas wisata sangat penting namun seperti tidak mendapat perhatian oleh pemerintah maupun oleh masyarakat sekitarnya. Terakhir adalah isu mengenai tour dolphin yang menjadi daya tarik wisata  andalan di kawasan Lovina ternyata dianggap tidak ramah lingkungan karena terkesan memburu dolphin dan membuat dolphin ketakutan. Terlepas dari semua issu negatif yang diperoleh dari hasil survei, ternyata diketahui bahwa ternyata tingkat kepuasan wisatawan tetap tinggi. Bahkan sebagian besar menyatakan kesiapannya untuk merekomendasikan Lovina kepada wisatawan lain.

Ada perbedaaan antara teori yang diadopsi dengan kenyataan yang diperoleh dari hasil survei di Lovina. Untuk di bidang pariwisata, teori tingkah laku pelanggan Kotler diadopsi dengan menyatakan bahwa setiap wisatawan yang puas terhadap pengalamannya berkunjung ke suatu daerah tujuan wisata dipastikan akan memiliki keinginan untuk kembali lagi dan merekomendasikan pengalamannya kepada orang lain. Akantetapi, hasil survei membuktikan bahwa bahwa korelasi antara tingkat kepuasan wisatawan dengan keinginan untuk merekomendasikan Lovina adalah tidak signifikan karena hubungan antara dua variabel yang diukur sangat lemah. Ada banyak faktor yang menyebabkan ketidak cocokan antara teori dan praktek. Salah satu nya adalah ketidak seriusan responden dalam memberikan jawaban atau ada kemungkinan beberapa respoden yang sebenarnya tidak puas akan pengalamannya di Lovina tetapi menyatakan dirinya puas hanya karena ingin menjaga perasaan pemberi kuesioner.

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai model yang diciptakan oleh Crouch dan Ritchie (2003) yang mengangkat lima dimensi utama penilaian, antara lain: (1) qualifying and amplifying determinants (2) destination policy (3) planning and development (4) destination management (5) supporting factors and resources.  Tujuan dari model ini adalah untuk mencapai keberlanjutan suatu daerah tujuan wisata dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dalam suatu daerah baik dalam bentuk kesejahteraan ekonomi, pemeliharaan lingkungan dan peningkatan kualitas hidup. Dari survai, secara tidak langsung diketahui bahwa destination management tidak terlaksana dengan baik. Terlihat dari koordinasi yang kurang antara pemerintah, masyarakat, expatriate, para pengusaha pariwisata dan wisatawan.

Terkait dengan temuan dari penelitian ini diharapkan menjadi pilot project terutama bagi pemerintah kabupaten Buleleng dalam pembentukan rambu-rambu atau referensi dalam merancang ulang strategi perencanaan dan manajemen pengelolaan kawasan wisata (destination strategic planning & management).  Dari hasil pembahasan diatas maka dapat ditegaskan bahwa hal paling urgen yang perlu dilakukan pemerintah dan pengelola pariwisata di kawasan Lovina adalah membersihkan pantai Lovina dari sampah maupun dari pedagang acung yang mengganggu wisatawan. Fasilitas wisata yang harus menjadi prioritas utama untuk diperbaiki adalah toilet umum, papan petunjuk atau papan informasi untuk wisatawan dan pusat informasi untuk wisatawan. Dalam hal promosi, image positif berupa pantai Lovina yang indah, tenang dan keramahtamahan penduduk lokal bisa dijadikan bahan promosi yang bagus untuk melakukan positioning dengan menggunakan dolphin sebagai maskot Lovina.

  1. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan wisatawan hanya merasa puas terhadap kualitas hotel dan keramahtamahan penduduk lokal di Lovina. Sedangkan,  terhadap fasilitas toilet umum, tourist information board dan tourist information center, wisatawan jelas menunjukkan ketidak puasan. Selanjutnya, wisatawan sebagian besar memberikan nilai netral untuk fasilitas-fasilitas seperti restaurant di dalam dan diluar hotel, money changer, communication services, shopping facilities, guide services, kualitas jalan, arus lalu lintas, jarak ke Lovina. Namun tingkat kepuasan wisatawan  secara umum berdasarkan keseluruhan pengalamannya berkunjung di kawasan wisata Lovina cukup tinggi. Ditinjau dari segi hubungan,ternyata tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat kepuasan wisatawan dengan keinginannya untuk merekomendasikan Lovina kepada orang lain. Pada akhir kuesioner, wisatawan menyatakan bahwa Lovina adalah kawasan wisata yang indah, tenang dan penduduknya sangat ramah.Harapan wisatawan agar pantai bersih dari pedagang acung dan sampah, selain itu toilet umum, trotoar dan papan informasi agar menjadi prioritas dalam pengelolaan kawasan wisata Lovina

Seluruh stakeholder kawasan wisata Lovina agar berkolaborasi untuk menjaga kebersihan pantai dari limbah padat maupun cair. Kolaborasi ini agar dilakukan secara berkelanjutan karena kebersihan pantai Lovina menyangkut image Lovina di mata wisatawan dan merupakan faktor penting dalam pemilihan daerah tujuan wisata. Keberadaan pedagang acung di pantai Lovina harus segera di tangani dengan baik untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan yang sedang berlibur dan disisi lain agar tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat lokal. Keberadaan toilet, papan informasi dan pusat informasi agar lebih diperhatikan sehingga memberikan pelayanan lebih baik lagi di masa mendatang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Chon, K. S & Mayer, K. J. 1995. Destination Competitiveness models in tourism and their application to Las Vegas, Journal of Tourism Systems and Quality Management, 1(2,3,4), pp. 227–46.

Crouch, G. I & Ritchie, B. J. R. 1999. Tourism, competitiveness, and societal prosperity, Journal of Business Research, 44(3), pp. 137–52.

d’Hauteserre, A. 2000. Lessons in managed destination competitiveness: the case of Foxwoods Casino Resort, Tourism Management, 21(1), pp. 23–32.

Faulkner, B., Opperman, M. and Fredline, E. 1999. Destination competitiveness: an exploratory examination of South Australia’s core attractions, Journal of Vacation Marketing, 5(2), pp. 125–39.

Goeldner, C. R. & Ritchie, J. R. B. 2003. Tourism: Principles, Practices, Philosophies. New York: Wiley.

Hanlan, Janet., Fuller, Don & Wilde, Simon. 2006. Destination Decision Making: The Need for a Strategic Planning and Management Approach, Tourism and Hospitality Planning and Development, vol 3, no 3, pp. 209-221.

Hassan, S. S. 2000. Determinants of market competitiveness in an environmentally sustainable tourism industry, Journal of Travel Research, 38(3), pp. 239–45.

Hoffman, Douglas. K & Bateson, John. E.G. 1997. Essensials of Services Marketing, NewYork: The Dryden Press.

Kotler, P & Bowen, J.T. & Makens J.C. 2006. Marketing for hospitality and tourism, Pearson Education, Inc., New Jersey.

Lewis, R.C. & Chambers, R.E. & Chacko, H.E. 1995. Marketing leadership in hospitality: foundations and practices, Van Nostrand Reinhold, USA.

Pearce, D. G. 1997. Competitive destination analysis in Southeast Asia, Journal of Travel Research, 35(4), pp.16–24.

Smart traveler website. 2007. http://www.smartraveller.gov.au/zw-cgi/view/Advice/Indonesia. Diakses pada tanggal 20 August 2007.

Sudibya, Bagus, 2003, Prospektif Agrowisata dan Ekowisata di Kabupaten Buleleng Propinsi Bali (Makalah ini disampaikan pada Seminar menjadikan Buleleng sebagai Daerah Tujuan Wisata Agrotourisme dan Ekotourisme pada tanggal 25 Agustus 2003).

Suwantoro, Gamal, 1997, Dasar-dasar Pariwisata, Yogyakarta: PT Andi.

Wahab, Salah, 1989, Pemasaran Pariwisata, Jakarta : PT Pradnya Paramita.

Zikmund, William G, 2003, Business Research Methods, Thompson Learning, USA.

About sustainabletourismforbali

I am the lecturer in Hotel Department , Social Science faculty, Ganesha Education University, Bali
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s